Lombok Timur, Selaparangnews.com – Akibat
dari kesalahan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dijalankan oleh Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Sikur, dalam menangani pasien Herni Suriyani
(36) yang beberapa waktu yang lalu melahirkan dalam ambulance ketika dalam
perjalanan dengan tidak didampingi oleh Bidan. Melihat hal itu, Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (DPRD) Lombok Timur melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke
Puskesmas Sikur, Kecamatan Sikur, Lombok Timur. Yang dimana pada proses Sidak
tersebut antara Bidan dan Dokter saling melempar kesalaham antar satu dengan
lainnya.
Bidan yang menangani pasien Herni
yaitu Ni Putu Erawati mengatakan jika yang menyebabkan kejadian fatal tersebut
ialah, karena Tim Gugus Covid-19 (TGC) Kecamatan Sikur yang terlambat merespon cepat
hasil analisa dari Bidan.
Menurutnya, Bidan di Puskesmas
Sikur sudah melayani pasien dengan sebaik-baiknya. Bahkan, tidak pernah
membeda-bedakan pasien. Dirinya mengaku pada waktu itu, memang kekurangan Alat
Pelindung Diri (APD) di Puskemas Sikur.
Kendati dengan APD seadanya berupa
masker saja, namun kata Putu itu tidak menjadikan alasan untuk tidak melakukan
pelayanan kepada pasien termasuk pasien Herni, yang pada waktu itu sudah
ditanganinya dengan semaksimal mungkin.
Kenyataannya setelah diketahui
bahwa Herni dikatakan reaktif, ia harus memberikannya rujukan pada waktu itu.
Dan menurutnya, yang menjadi inti persoalan pada waktu perujukan itu yakni harus menyertakan hasil rapid test, yang
mengharuskannya menunda perujukan pasien. "Gara-gara rapid test, itu yang
menjadi masalah," imbuhnya.
Disisi lain, dokter Faried Wajdy
yang menjadi dokter pada saat itu di Puskesmas Sikur sekaligus ketua TGC Sikur,
memberikan jawaban bahwa TGC bukan terlambat merespon dari hasil analisa bidan
pada waktu itu.
Akan tetapi, dirinya mengatakan dari
pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Soedjono Selong memang mempunyai
proses dan prosedur yang lumayan panjang, ketika hasil rapid test menunjukkan
hasil reaktif.
Ia membantah bahwa keterlambatan
itu disebabkan dari tim TGC yang lalai, namun menurutnya tim TGC bertindak jika
pihak RSUD sudah merespon ketersediaan ruang isolasi untuk pasien.
"Kami tunggu dulu dari respon
RSUD, barulah kami bisa bertindak lebih lanjut lagi. Makanya kami tunda dulu
kemarin, karena memang belum ada respon mengenai ruang tempat isolasi
pasien," sebutnya.
Menurutnya tim TGC sudah siap dari
awal untuk mengawal pasien, namun karena pihak RSUD juga terlambat merespon
terkait dengan ketersediaan ruang isolasi.
Menjawab saling lempar kesalahan
antara Bidan dan Dokter tersebut, Rohyatul Aini selaku Kepala Seksi Kesehatan
Keluarga Dinas Kesehatan Lombok Timur memberikan penjelasan bahwa, khusus untuk
rujukan ibu hamil memang tidak boleh dipersulit.
"Kalau pasiennya itu ibu
hamil, terlebih lagi sudah mau melahirkan, itu memang tidak boleh
dipersulit," ucapnya.
Namun, lanjutnya, disebabakan
karena pasien Herni itu hasilnya reaktif ketika di rapid test. Maka harus
dilayani sesuai dengan standar prosedur Covid-19 yang telah ditetapkan oleh Pemerintah
Pusat maupun Daerah.
Dalam hal ini, ia menuturkan bahwa
tidak ada yang perlu disalahkan pada kejadian tersebut. Pasalanya, perlu
diketahui oleh Bidan ataupun Dokter, jika pasien dalam keadaan darurat maka
harus dilayani dengan cepat dan tepat, dengan tidak mengulur-ulur waktu.
Adapun pada Sidak tersebut, turut
dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi II DPRD Lotim Muliadi Fadil Tohir, Anggota
Komisi II H. M. Holidi, Anggota Komisi II Safrudin, Anggota Komisi IV M. Yusri,
Kepala Puskesmas Musdikin, S.Kep Ns., Ketua LPSM "Sikur Berkah"
Muhammad Fauzan, Anggota LSM LIRA Kartanom, dan Pihak keluarga dari pasien
Herni yakni Yana.
Dari pihak Puskesmas Sikur sendiri,
Musdikin, S.Kep, Ns selaku Kepala Puskesmas melihat kejadian tersebut meminta
maaf kepada pihak keluarga dari pasien Herni, karena mengakui bahwa itu adalah
keteledoran Tenaga Kesehatannya. Sebab, menurutnya itu merupakan di luar kendalinya
sebagai pucuk pimpinan.
Muliadi pada kesempatan tersebut,
menyampaikan jika kejadian pasien Herni bukan hanya selesai dengan permintaan
maaf dari pihak Puskesmas Sikur. Hal itu disebabkan, karena kejadian itu
menyangkut nyawa manusia yang harus diatensi akar permasalahannya ke depan,
agar dapat memberikan solusi.
Lebih lajut lagi, dengan adanya
kejadian tersebut, kata ketua DPC PBB Lotim ini kejadian Herni merupakan
gambaran kecil dari pelayanan sebagian besar Puskesmas yang ada di Lotim. Ke
depan, dengan kejadian tersebut ia akan melakukan rapat khusus untuk membahas
terkait dengan pelayanan Puskesmas di Lotim.
"Karena kejadian ini merupakan
gambaran kecil dari Puskesmas yang ada di Lotim, maka ke depan kami akan
rapatkan hal ini," tandasnya.
Di tempat yang sama, Komisi IV DPRD
Lotim Yusri menyesalkan kejadian yang menimpa Herni yang notabenenya sebagai
warganya juga. Menurutnya itu bukan merupakan keteledoran tak disengaja, namun
lebih cenderung kepada keteledoran yang disengaja dan disadari oleh Nakes di
Puskesmas Sikur.
"Bidan kok tidak mendampingi pasien ibu yang hamil, ini kita bukan bicara mengenai SOP lagi, tapi juga berbicara mengenai Hak Asasi Manusia (HAM)," tegasnya. (fgr)