![]() |
Supaedi, Difabel Asal Desa Labuhan Haji membersihkan sampah plastik di rumahnya |
SELAPARANGNEWS.COM - Nasib buruk kerapkali datang dalam kehidupan kita dengan cara yang tak diduga-duga. Ia seperti misteri yang selalu mengintip, menunggu waktu untuk hadir merenggut kebahagiaan hidup yang kita rasakan selama ini.
Demikian barangkali yang dialami Supaedi, lelaki 42 Tahun asal Dusun Montong Meong, Desa Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur yang hampir empat tahun menjalani hidup tanpa kedua lengan, bersama istri tercinta dan kedua putranya.
Kisah pilu Supaedi bermula saat dirinya bekerja menjadi kuli bangunan sekitar tahun 2021 dulu. Kedua lengannya terpaksa diamputasi oleh Dokter akibat sengatan listrik bertegangan tinggi. "Kata dokter kedua tangan saya ini sudah rusak total, kalau dibiarkan malah akan membusuk makanya harus diamputasi," jelasnya ditemui di rumahnya. Jum'at, (06/12/2024).
Kini Ia sudah berdamai dengan dirinya, Ia sudah menerima semua peristiwa tragis yang menimpanya itu sebagai takdir yang mau tidak mau harus dijalani dengan penuh keikhlasan dan rasa sabar.
Meskipun mendapat sedikit uluran tangan dari para dermawan, Supaedi tak memungkiri bahwa awalnya Ia memang gelisah menjalani hidup dan sangat tak bersemangat untuk melanjutkan usianya yang terluka.
Katanya, yang membuat hatinya hancur berkeping-keping bukanlah kondisi tubuhnya yang tak lagi punya lengan itu, melainkan keberadaan dua anaknya yang masih kecil, yang saat ini akan segera memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Namun, tegas Supaedi, karena berkat dorongan semangat beserta rasa cinta yang mendalam dari keluarga dan Istrinya, Ia menjadi lebih optimis dan berani mencabar diri di dunia yang penuh kejutan ini.
Supaedi akhirnya belajar memanfaatkan Platform Media Sosial Tiktok dari tetangganya. Sembari memulung sampah plastik di dunia nyata, saat ini Ia juga aktif memulung koin dan gift dari para penggemarnya di dunia maya.
"Alhamdulillah ada saja yang memberikan hadiah, lumayan lah bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," ujarnya.
Kendati demikian, akun tiktok Upae21.mans miliknya tidak serta merta ramai dan mendapatkan hadiah dari penonton. Ia membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk belajar kegiatan apa saja yang bisa menarik orang untuk berbagi. Dari sanalah Ia mulai menmengkolaborasikan kegiatannya mulung sampah dengan live tiktok.
"Jadi saya live itu sambil membersihkan plastik-plastik yang saya kumpulkan dari sekitar rumah," kata Supaedi sembari mengatakan bahwa harga sampah yang dibersihkan itu lebih mahal daripada yang tidak dibersihkan.
Tapi sayang, udah hampir dua minggu ini dirinya tidak live di tiktok lantaran program pemberian gift diakunnya itu dibanned selama sebulan. Namun Ia tak kehilangan akal untuk mencari rezeki, katanya, dengan masuk ke room orang lain, maka orang akan bisa memberikannya gift, meskipun kadang harus memberikan gift dulu kepada host baru diberikan kesempatan untuk naik room.
Semenjak sering live tiktok, Supaedi akhirnya punya banyak kawan dan penonton di luar sana, yang kadang-kadang memberikannya uluran tangan berupa gift atau uang tunai secukupnya.
Kendati demikian, Supaedi berharap Pemerintah juga memperhatikannya, bahkan bila perlu ikut membantu meringankan bebannya menjadi kepala keluarga.
Sampai saat ini, kata Supaedi, Ia belum punya BPJS Kesehatan gratis. Ia pernah punya BPJS Kesehatan tapi yang berbayar. Sialnya, Kartu yang baru saja dilunasi dan belum sempat digunakan itu malah hilang.
"Harapan saya, pemerintah juga membantu saya dalam meringankan beban keluarga saya," pungkasnya. (Yns)